Rabu, 02 Juli 2025

Bauran Listrik EBT per Mei 2025 Baru 14,2 Persen, Masih di Bawah Target Nasional

TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam sistem kelistrikan nasional per Mei 2025 mencapai 14,2 persen. Angka ini masih berada di bawah target yang ditetapkan dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) tahun 2025 sebesar 15,9 persen. “Realisasi hitungan kami sampai dengan Mei 2025, EBT-nya baru 14,2 persen atau 24,1 TWh,” kata Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Jisman Hutajulu dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR, Senin, 30 Juni 2025.

Ia mengatakan penggunaan energi berbasis batu bara masih mendominasi sebesar 67,5 persen, sementara gas mencapai 15,7 persen, dan BBM 2,6 persen. Meskipun secara persentase selisihnya hanya sekitar 1,7 persen dari target, capaian energi terbarukan secara volume masih cukup tertinggal. “Kalau dari TWh-nya, 89 dibanding 61 TWh, masih sekitar sepertiga lebih,” ujar Jisman.

Untuk mengejar target tahunan, pemerintah menargetkan bauran EBT mencapai 14,4 persen pada akhir 2025 dengan proyeksi produksi listrik dari EBT sebesar 61,2 TWh. Salah satu strategi yang akan ditempuh adalah mendorong co-firing, yaitu pencampuran batu bara dengan biomassa di pembangkit eksisting tanpa harus membangun unit baru. “Kami akan meningkatkan bauran melalui co-firing untuk menghasilkan energi bersih tanpa mengganggu atau menggantikan pembangkit yang sudah ada,” kata dia.

Bahlil Sebut Pemerintah Dorong Pengurangan Emisi Industri Lewat Pemanfaatan EBT untuk Smelter
Dalam RUKN, pemerintah telah menetapkan peta jalan peningkatan porsi EBT hingga 2034. Target bauran EBT ditetapkan sebesar 16,4 persen pada 2026, 21 persen di 2030, dan 29,4 persen pada 2034. Namun dalam RUPTL terbaru yang dirilis pada Mei 2025, PLN menargetkan bauran EBT pada 2034 bahkan bisa mencapai 34,3 persen, melebihi target RUKN.

Saat ini, kapasitas pembangkit terpasang nasional mencapai 105 GW, dengan pembangkit milik PLN dan Independent Power Producer (IPP) mengelola sekitar 78,5 GW atau 75 persen dari total kapasitas. Dari jumlah tersebut, energi batu bara masih mendominasi lebih dari separuh kapasitas, diikuti gas 29 persen, dan EBT termasuk air, panas bumi, surya, bayu, dan biomassa masih di bawah 15 persen.

PLN dan Pupuk Indonesia Bekerja Sama untuk Produksi Hidrogen dan Amonia Hijau
Jisman menambahkan, setiap tahun pemerintah akan terus mengevaluasi capaian dan memperbarui perencanaan untuk memastikan transisi energi berjalan sesuai arah kebijakan nasional. "Setiap tahun kami akan menghitung. Ada lagi antara target dan realisasi, tapi kami terus dorong agar mendekati,” kata dia.

Sumber: tempo.co